Apa yang Membuat Mereka Bertahan?



Siang itu Gontor 6 sedang panas-panasnya. Matahari bersinar seperti hanya berjarak beberapa kilometer (uups 🤪) dari kepala. Hanya sedikit walsan yang berlalu lalang. Sebagian besar mereka berteduh di tempat yang dinaungi bayangan. Beberapa terlihat tertidur atau sekedar berleha-leha sambil menanti putra-putranya istirahat dan menghampiri mereka.

Pun, termasuk saya, tidur-tiduran, berusaha untuk tidur betulan sebagai ganti tidur tadi malam yang kurang. Tapi mata sulit terpejam. Terbayang anak. Terbayang santri-santri Gontor. Mereka anak-anak hebat, demikian lintasan fikiran di benak.

Kalau difikir, diliat dari pendaftaran saat awal masuk, atau saat musim liburan kantor setiap angka kalender berwarna merah, berbagai jenis mobil terparkir di tempat parkir. Tidak sedikit merupakan mobil yang berharga di atas 300 jutaan. Bahkan lebih. Terbayang anak-anak mereka dulu sangat nyaman tidur di rumah megah. Setiap pekan mungkin makan bersama keluarga di restoran. Atau sesekali shopping di mal-mal ber-AC.

Eh, .. tapi tidak usah terlalu jauh memikirkan mereka. Kami pun dari keluarga yang belum dan akan punya mobil (insya Allah 😁), membayangkan anak-anak dulu bisa bersantai dirumah. Bermain komputer atau menonton TV sambil tiduran.  Sekali-kali minta kepada Bundanya dibuatkan makanan istimewa. Atau jajan ke warung sebelah tanpa hambatan, kecuali kalau uangnya tidak ada 🤪. Tidur di kasur yang lebih tebal. Mereka cukup nyaman.

Kini mereka mondok. Mereka menghabiskan usia remajanya di Gontor. Mereka meninggalkan kenikmatan itu semua. Panas terik harus mereka nikmati dengan baju yang basah karena peluh. Hujan pun harus mereka syukuri dengan baju basah dan gigil kedinginan. Tidak ada waktu berleha-leha. Bergerak atau tertinggal.

Lupakan dulu kasur yang empuk. Jangan tanya apakah bisa tidur-tiduran bersantai menonton TV sambil mengemil makanan kecil. Apalagi bermain Mobile Legend berjam-jam menghabiskan kuota internet ayahnya. Ditambah lagi pelajaran berbahasa Arab dan Inggris yang harus masuk otaknya. Setumpuk tanggungjawab dengan resiko hukuman, dan ... lalu ... kemudian .....

Tapi .. dari sekian ribu setiap angkatan masuk Gontor, hanya persentase kurang dari 5 % yang kemudian tidak lanjut. 95% lainya lulus dan tuntas. Masya Allah. Hanya satu kesimpulan saya: MEREKA ADALAH PEJUANG! MUJAHID ILMU!

Beberapa ayah wali santri kadang mendapat pertanyaan, apakah mereka sanggup seperti anak-anak mereka yang menempuh pendidikan di Gontor, sebagian besar menjawab “mungkin tidak mampu, Pak”. Sebuah jawaban yang tidak bisa disalahkan karena parameter mereka mungkin sudah berbeda. Tapi yang jelas tidak ada satupun yang tidak menyiratkan kebanggan terhadap putranya.

Apa yang menyebabkan anak-anak kita yang 95% bisa menuntaskan pendidikannya dengan perjuangan sedemikian rupa? Apakah terpaksa? Sukarelakah? Atau lainnya?

Belum sempat bertemu dengan jawaban, tiba-tiba segerombolan anak keluar dari gerbang pondok menuju Bapenta. Anak-anak sedang istirahat. Dan nampak seorang anak menghampiri ibu, ayah dan neneknya yang sedang mudhif menengoknya. Dan seperti biasa mereka pun saling bercerita sambil menikmati makan siang. Di tengah santapan tiba-tiba sang nenek bertanya, “Qy, Rizqy ada keluhan ga selama di sini?” Sang anak berfikir sejenak, ”eh ... ya adalah Nek. Tapi dalam otak Rizqy, Ryzqy ingin membahagiakan ayah bunda jadi santai aja”, jawab anak itu ringan sambil tersenyum.

Masya Allah! Ini jawaban pertanyaan saya tadi! CINTA! Kekuatan cinta kepada orangtua menjadi salah satu yang membuat mereka kuat. Mungkin ini bukan jawaban keseluruhan tapi ini adalah salah satu jawaban yang dahsyat.

Baca Juga






Jawaban ini mungkin akan diprotes oleh para penggiat HAM. Bagi mereka, diri sendiri pun punya hak bersenang-senang. Sebuah dalih karena ketidakmampuan mengendalikan ego bahkan mungkin nafsu.

Hakikat perjuangan adalah menekan ego dan nafsu. Dan itu bisa diraih dengan salah satunya: CINTA.

Mungkin ada banyak jawaban, tapi jawaban anak itu sanggup membuka keran-keran air di mata ayahnya. Matanya seperti kaca yang kehujanan, jika topik tidak segera dialihkan mungkin air itu akan tumpah. Mereka benar-benar seorang pejuang, seorang mujahid ilmu!! Dalam hatinya terucap: Terima kasih Gontor. ❤

Comments